Fenomena perubahan suasana hati atau Mood Swing yang drastis dan cepat adalah salah satu karakteristik paling umum yang dihadapi orang tua dan guru pada anak usia Sekolah Menengah Pertama (SMP). Fase ini sering disebut sebagai Perkembangan Remaja awal, di mana anak bertransisi dari masa kanak-kanak menuju kedewasaan. Lonjakan emosi yang tiba-tiba—dari tawa ke tangis, atau dari semangat menjadi murung dalam hitungan menit—seringkali disalahartikan sebagai kenakalan atau pembangkangan, padahal ini adalah bagian alami dari proses Pubertas. Penting untuk diingat bahwa Mood Swing yang terjadi pada fase Perkembangan Remaja ini sebagian besar didorong oleh perubahan biologis dan bukan sepenuhnya keputusan yang disengaja. Apabila tidak dipahami dan ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat memengaruhi Kesehatan Mental anak. Sebuah studi yang diterbitkan oleh Jurnal Psikologi Anak dan Keluarga pada November 2025 menunjukkan bahwa ketidakstabilan emosi mencapai puncaknya pada usia 13 hingga 15 tahun.
Penyebab utama dari Mood Swing pada usia SMP adalah perubahan hormonal besar-besaran yang terjadi selama Pubertas. Peningkatan kadar hormon seperti estrogen dan testosteron memengaruhi pusat emosi di otak, yaitu amigdala, sehingga reaksi emosional menjadi lebih intens dan sulit dikontrol. Selain faktor biologis, otak remaja masih dalam tahap pengembangan, terutama bagian korteks prefrontal, yang bertanggung jawab atas penilaian, perencanaan, dan regulasi emosi. Karena bagian ini belum matang sempurna, remaja seringkali bertindak impulsif sebelum memikirkan konsekuensinya, yang berkontribusi pada gejolak emosi.
Selain faktor internal, tekanan eksternal juga memainkan peran besar dalam Mood Swing. Anak usia SMP menghadapi peningkatan tekanan akademik (seperti tugas yang lebih banyak dan ujian yang lebih sulit), serta tekanan sosial (peer pressure) untuk diterima oleh kelompok sebaya. Konflik identitas diri dan upaya untuk menemukan tempat di dunia juga menimbulkan kecemasan. Misalnya, insiden perdebatan sengit mengenai tren berpakaian yang terjadi di kantin SMP Bina Bangsa pada hari Rabu, 17 Desember 2025, dapat memicu perasaan penolakan yang besar, yang langsung tercermin dalam suasana hati anak sepulangnya dari sekolah.
Bagaimana Wali Murid dan guru harus merespons? Kuncinya adalah validasi dan kesabaran. Daripada meremehkan perasaan anak dengan mengatakan “Ah, kamu lebay,” cobalah mengakui emosi mereka dengan mengatakan, “Ibu/Bapak mengerti kamu sedang marah/sedih.” Membangun komunikasi yang terbuka dan tidak menghakimi sangat penting untuk menjaga Kesehatan Mental mereka. Orang tua juga perlu memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup (minimal 8 jam per malam), karena kurang tidur terbukti memperburuk ketidakstabilan emosi.
Meskipun Mood Swing adalah hal yang normal dalam Perkembangan Remaja, Wali Murid harus tetap waspada. Jika perubahan suasana hati berlangsung sangat intens, disertai dengan penarikan diri sosial yang ekstrem, penurunan nilai drastis, atau munculnya pikiran merugikan diri sendiri, ini mungkin bukan lagi sekadar mood swing biasa. Dalam kasus seperti ini, konsultasi dengan profesional Kesehatan Mental anak atau Guru BK sekolah (misalnya Ibu Ratna Sari, S.Psi., selaku Guru BK di SMP Harapan Ibu) harus segera dilakukan.
