Di tengah pesatnya arus informasi di media sosial, peran jurnalisme warga atau citizen journalism menjadi semakin krusial dalam mengawal kebijakan publik dan meningkatkan kesadaran sosial. SMPN 3 Jakarta mengambil peran aktif dalam fenomena ini dengan membekali para siswanya keterampilan jurnalistik dasar melalui program Citizen Journalism. Namun, mereka tidak sekadar mencari berita umum; fokus utama mereka adalah menjadi “penyambung lidah” bagi kelestarian alam di sekitar mereka. Program ini mengajak siswa untuk keluar dari zona nyaman kelas dan melihat secara kritis apa yang terjadi pada lingkungan kota mereka saat ini.
Para pelajar di SMPN 3 Jakarta dilatih untuk peka terhadap masalah sekecil apa pun, mulai dari tumpukan sampah di saluran air hingga berkurangnya ruang terbuka hijau di lingkungan sekitar sekolah. Dengan hanya menggunakan perangkat ponsel pintar, mereka melakukan peliputan langsung, mengambil foto dokumentasi, dan mewawancarai warga setempat. Aktivitas ini mengajarkan mereka tentang pentingnya integritas data dan objektivitas dalam melaporkan sebuah peristiwa. Mereka bukan hanya sekadar “memposting” konten, tetapi melakukan riset mendalam agar laporan yang mereka buat memiliki bobot ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.
Gerakan untuk Suarakan Isu Lingkungan ini kemudian dikemas dalam bentuk artikel blog, video pendek, maupun infografis yang diunggah ke kanal media sosial sekolah. Melalui platform tersebut, para siswa mencoba menggugah kesadaran masyarakat tentang dampak gaya hidup perkotaan terhadap ekosistem. Mereka membahas topik-topik hangat seperti polusi udara, manajemen limbah rumah tangga, hingga pentingnya penanaman pohon di lahan sempit. Dengan bahasa khas remaja yang lugas namun informatif, konten-konten mereka berhasil menarik perhatian audiens yang lebih luas, termasuk para pemangku kepentingan di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Konsep Citizen Journalism di tingkat sekolah menengah ini juga menjadi sarana pendidikan karakter yang sangat efektif. Siswa belajar tentang keberanian menyampaikan kebenaran, etika dalam menyebarkan informasi, dan tanggung jawab sosial sebagai warga kota. Mereka diajarkan untuk tidak hanya mengeluh tentang keadaan, tetapi menjadi bagian dari solusi melalui advokasi digital. Keberanian mereka dalam menyoroti isu-isu lingkungan kota memberikan pesan kuat bahwa suara anak muda memiliki kekuatan untuk mendorong perubahan positif jika dikelola dengan cara yang tepat dan edukatif.
