Selama ini, istilah pencitraan diri atau Personal Branding sering kali dianggap sebagai kebutuhan orang dewasa atau profesional di dunia kerja. Namun, di tengah persaingan pendidikan yang semakin ketat dan transparansi informasi di media sosial, siswa tingkat sekolah menengah pun perlu mulai memahami cara mempresentasikan diri mereka dengan baik. Di SMPN 3, para siswa mulai diajarkan cara membangun citra diri yang positif dan autentik melalui pembuatan portofolio prestasi. Fokusnya bukan pada pamer atau kesombongan, melainkan pada pendokumentasian perjalanan belajar dan pencapaian yang sehat sebagai modal pengembangan diri di masa depan.
Langkah awal bagi siswa di SMPN 3 adalah mengenali potensi dan minat unik mereka masing-masing. Branding yang sehat dimulai dari kejujuran diri sendiri. Siswa didorong untuk tidak sekadar mengikuti tren, tetapi mendalami bidang yang benar-benar mereka sukai, baik itu di bidang akademik, olahraga, seni, maupun kegiatan sosial. Sekolah memberikan ruang bagi siswa untuk memamerkan hasil karya mereka, mulai dari esai terbaik, proyek sains, hingga dokumentasi kegiatan organisasi. Semua pencapaian ini dikumpulkan dalam sebuah dokumen terstruktur—baik fisik maupun digital—yang menjadi bukti nyata dari kompetensi dan dedikasi mereka selama menempuh pendidikan di SMP.
Pentingnya portofolio ini ditekankan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas waktu dan kesempatan yang telah mereka miliki. Dengan melihat kembali apa yang telah dicapai, siswa dapat mengevaluasi kelemahan dan merencanakan target berikutnya dengan lebih jelas. Di SMPN 3, guru membantu siswa untuk menarasikan pencapaian mereka. Misalnya, daripada hanya menuliskan “juara lomba lukis”, siswa diajarkan untuk menjelaskan proses kreatif di baliknya dan pelajaran apa yang mereka ambil dari kegagalan sebelum meraih juara. Inilah yang membuat Personal Branding mereka menjadi bermakna; bukan sekadar label, melainkan cerita tentang pertumbuhan karakter dan ketekunan.
Selain itu, sekolah juga mengedukasi siswa mengenai etika dalam membangun citra digital. Siswa diajarkan bahwa apa yang mereka tampilkan di profil media sosial adalah bagian dari branding mereka. Oleh karena itu, konsistensi antara perilaku nyata di sekolah dengan aktivitas di dunia maya sangatlah penting. Citra diri yang sehat adalah yang dibangun di atas fondasi integritas. Siswa yang aktif dalam kegiatan literasi di sekolah, misalnya, didorong untuk berbagi ulasan buku atau pemikiran positif di akun mereka. Hal ini membantu mereka membangun jaringan yang positif sejak dini dan menjauhkan diri dari perilaku toksik yang dapat merusak reputasi jangka panjang.
